Kamis, 21 Januari 2010

Kelebihan Berat Badan Bikin Susah Tidur

Berhati hatilah anda menjaga berat badan

Lihat Gambar


Kehilangan berat badan dapat secara dramatis memperbaiki dan bahkan berpotensi menghapuskan gejala gangguan tidur pada orang yang kegemukan, demikian konfirmasi satu studi.
Menurut beberapa peneliti, orang yang memiliki gangguan tidur parah yang kehilangan jumlah berat yang disarankan, tiga kali lebih mungkin untuk mengalami hilangnya secara total gejala gangguan tidur dibandingkan dengan orang yang tak kehilangan berat badan.
Dalam studi itu, yang disiarkan di dalam Archives of Internal Medicine, para peneliti memilih 264 orang dewasa yang sangat gemuk untuk percobaan. Semua peserta secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menjalani program penurunan berat badan dengan porsi makanan yang dikontrol dan program olahraga 175 menit per pekan.
Kelompok kedua tak menerima saran untuk mengurangi berat badan dan ikut dalam program penanganan diabetes. Satu tahun kemudian, kelompok yang menjalani program penurunan berat badan kehilangan rata-rata 24 pon, sedangkan kelompok kedua hanya kehilangan berat lebih dari 1 pon.
Mereka yang berada di dalam kelompok penurunan berat badan tiga kali lebih mungkin untuk kehilangan gangguan tidur dan mengalami sekitar separuh kondisi gangguan tidur parah dibandingkan dengan kelompok kedua. Selain itu, studi tersebut memperlihatkan bahwa orang yang berada di dalam kelompok kedua mengalami gejala gangguan tidur yang bertambah parah.
"Hasil ini memperlihatkan bahwa para dokter serta pasien dapat mengharapkan perbaikan besar dalam gejala gangguan tidur mereka dengan berkurangnya berat badan," kata peneliti Gary Foster, Direktur di Center for Obesity Research and Education di Temple University, dalam satu siaran pers.
"Dan berkurangnya gejala gangguan tidur memiliki sejumlah keuntungan bagi kesehatan dan kesehatan secara keseluruhan," katanya.
Gejala gangguan tidur paling umum terjadi pada orang yang kelebihan berat badan dan kegemukan. Gangguan tidur mengakibatkan ngorok keras dan gangguan tidur sebagai akibat dari saluran udara menjadi terhalang sementara selama tidur.
Jika tak diobati, gangguan tidur juga dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung.

Ternyata Indonesia Tidak Dijajah 350 Tahun Oleh Belanda



http://adainfodi.files.wordpress.com/2009/08/pejuang-kemerdekaan-45.jpg
Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Prof Taufik Abdullah mengatakan Indonesia tidak pernah dijajah oleh pemerintah kolonial Belanda selama 350 tahun.

"Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup dibawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa (19/1).

Hal tersebut dikatakannya disela seminar nasional pengusulan Sultan Serdang ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945) sebagai pahlawan nasional.

Taufik mengatakan, orang-orang Belanda pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1552 dibawah pimpinan Cornelius De Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan dan pusat kekuasaan di Nusantara saat itu yakni di Banten.

Sementara kolonialisme Belanda berakhir pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan diduduki oleh bala tentara Jepang.

"Logikanya apakah masuk akal kalau dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di Banten," katanya.

Ia mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut pada abad ke-17 yang boleh dikatakan sebagai zaman ketika berbagai kerajaan di Kepulauan Nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa.

Abad ke-17 adalah masa berjayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang sempat meluaskan kekuasaannya ketanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, demikian juga dengan Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya keseluruh Jawa kecuali Banten dan Batavia.

Begitu juga dengan Raja Tallo dan sekaligus menjabat perdana menteri kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin Raja Gowa (1653-1669).

Mereka memerintah dikerajaan masing-masing dan biasa juga terlibat dalam kompetisi dan konflik sesama mereka.Pada masa itu pula mereka menghadapi dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing seperti Belanda, Spanyol dan Portugis.

"Lalu bagaimana harus dipahami kalau dibawah kolonialisme Belanda memerintah, raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya.

sumber: http://www.berita2.com/daerah/sumatera/3728-ternyata-indonesia-tidak-dijajah-350-tahun-oleh-belanda